7 Kecelakaan Pesawat Terparah di Indonesia
![]() |
Accident |
1. Merpati Nusantara Airlines Penerbangan 8968
Jumlah Penumpang : 25 jiwa
Korban : Semua Tewas
2. Garuda Indonesia Penerbangan 200
Jumlah Penumpang : 133 jiwa
Korban :
- Selamat : 118 jiwa
- Tewas : 28 jiwa
3. Lion Air Penerbangan 538
Jumlah Penumpang : 164 jiwa
Korban :
- Selamat : 142 jiwa
- Tewas : 26 jiwa
Pesawat tersebut patah di tengah, tepatnya di bagian tulisan ‘Lion’ pada badan pesawat. Beberapa pengurus NU, termasuk Ketua Komisi VIII DPR, KH Yunus Muhammad, juga termasuk penumpang yang meninggal.
Berdasarkan hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), penyebab kecelakaan adalah karena landasan pacu yang tergenang air atau peristiwa yang dikenal sebagai hydroplanning sehingga pesawat tergelincir dan tidak dapat dikendalikan dan mengalami overshoot/overrun (meluncur keluar landasan). Keadaan ini juga diakibatkan kesalahan pilot yang tidak mengikuti prosedur mendarat (seperti mengaktifkan spoiler).
4. Adam Air Penerbangan 574
Jumlah Penumpang : 112 jiwa
Korban :
- Hilang : 10 jiwa
- Tewas : 102 jiwa
5. Mandala Airlines Penerbangan 91
Jumlah Penumpang : 112 jiwa
Korban :
- Selamat : 16 jiwa
- Tewas : 148 jiwa

Kecelakaan
ini terjadi pada sekitar pukul 09.40 WIB saat pesawat sedang lepas
landas. Pesawat tersebut lepas landas dalam posisi yang tidak sempurna
dan lalu menabrak tiang listrik sebelum jatuh ke jalan dan menimpa rumah
warga yang terletak hanya sekitar 100 meter dari bandara.
Setelah jatuh, pesawat meledak beberapa kali dan terbakar sehingga hancur hampir sepenuhnya, menyisakan ekor pesawat bertuliskan PK-RIM. Sebanyak lima rumah warga yang tertimpa badan pesawat juga terbakar.
6. Garuda Indonesia Penerbangan 152
Garuda
Indonesia Penerbangan GA 152 adalah sebuah pesawat Airbus A300-B4 yang
jatuh di Desa Buah Nabar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang,
Sumatra Utara, Indonesia (sekitar 32 km dari bandara dan 45 km dari kota
Medan) saat hendak mendarat di Bandara Polonia Medan pada 26 September
1997. Kecelakaan ini menewaskan seluruh penumpangnya yang berjumlah 222
orang dan 12 awak dan hingga kini merupakan kecelakaan pesawat terbesar
dalam sejarah Indonesia. Kecelakaan ini berjenis CFIT (Controlled flight
into terrain; bahasa Indonesia: Penerbangan Terkendali Menuju Daratan)
dimana sebuah pesawat yang laik terbang dan memiliki kru yang terlatih
tanpa sengaja jatuh ke tanah, pegunungan, atau perairan). Pilot umumnya
tidak menyadari bahaya di depan hingga semuanya terlambat.
Pesawat tersebut sedang dalam perjalanan dari Jakarta ke Medan dan telah bersiap untuk mendarat. Menara pengawas Bandara Polonia kehilangan hubungan dengan pesawat sekitar pukul 13.30 WIB. Saat terjadinya peristiwa tersebut, kota Medan sedang diselimuti asap tebal dari kebakaran hutan. Ketebalan asap menyebabkan jangkauan pandang pilot sangat terbatas dan cuma mengandalkan tuntunan dari menara kontrol Polonia, namun kesalahmengertian komunikasi antara menara kontrol dengan pilot menyebabkan pesawat mengambil arah yang salah dan menabrak tebing gunung. Pesawat tersebut meledak dan terbakar, menewaskan seluruh penumpang dan awaknya.
Dari seluruh korban tewas, ada 44 mayat korban yang tidak bisa dikenali yang selanjutnya dimakamkan di Monumen Membramo, Medan. Di antara korban jiwa, selain warga Indonesia, tercatat pula penumpang berkewarganegaraan Amerika Serikat, Belanda dan Jepang.
7. Demo Penerbangan Sukhoi Super Jet 100
Pada
pukul 14:00 WIB (07:00 UTC), SSJ-100 lepas landas dari Bandar Udara
Halim Perdanakusuma untuk sebuah penerbangan demonstrasi lokal yang
dijadwalkan mendarat kembali ke titik awal keberangkatan. Penerbangan
tersebut adalah demonstrasi yang kedua pada hari itu. Dalam pesawat
terdapat 6 orang awak kabin, 2 orang perwakilan dari Sukhoi, dan 37
orang penumpang. Di antara penumpang adalah perwakilan dari Aviastar
Mandiri, Batavia Air, Pelita Air Service, dan Sriwijaya Air. Pada pukul
15:30 (08:30 UTC), Pilot Alexander Yablonstev, yang belakangan diketahui
baru pertama kali menerbangkan pesawat di Indonesia meminta izin untuk
menurunkan ketinggian dari 10.000 kaki (3,000 m) ke 6.000 kaki (1,800
m). Otoritas Pemandu Lalu Lintas Udara memberikan izin dan komunikasi
tersebut merupakan kontak terakhir dengan pesawat yang saat itu sekitar
75 mil laut (139 km) selatan Jakarta, di sekitar Gunung Salak.
Sebuah pencarian di darat dan udara untuk pencarian pesawat ini dimulai, tapi dibatalkan karena malam tiba. Pada tanggal 10 Mei pukul 09:00 WIB (02:00 UTC), reruntuhan Superjet Sukhoi ditemukan di Gunung Salak (6°42′35″S 106°44′03″E), pada ketinggian 1.500 meter. Hal yang diketahui hanya bahwa pesawat terbang searah jarum jam menuju Jakarta sebelum menabrak Gunung Salak. Laporan awal menunjukkan bahwa pesawat menabrak tepi tebing di ketinggian 6.250 kaki (1,910 m), meluncur menuruni lereng dan berhenti di ketinggian 5.300 kaki (1,600 m). Pesawat ini muncul relatif utuh dari udara, bagaimanapun, telah mengalami kerusakan besar, dan tidak ada tanda korban selamat. Lokasi kecelakaan itu tidak dapat diakses oleh udara dan belum terjangkau oleh tim penyelamat pada malam hari pada tanggal 10 Mei. Beberapa kelompok dari personil penyelamat berusaha mencapai reruntuhan dengan berjalan kaki.
Setelah jatuh, pesawat meledak beberapa kali dan terbakar sehingga hancur hampir sepenuhnya, menyisakan ekor pesawat bertuliskan PK-RIM. Sebanyak lima rumah warga yang tertimpa badan pesawat juga terbakar.
6. Garuda Indonesia Penerbangan 152
Jumlah Penumpang : 222 jiwa
Korban : Semua Tewas
Pesawat tersebut sedang dalam perjalanan dari Jakarta ke Medan dan telah bersiap untuk mendarat. Menara pengawas Bandara Polonia kehilangan hubungan dengan pesawat sekitar pukul 13.30 WIB. Saat terjadinya peristiwa tersebut, kota Medan sedang diselimuti asap tebal dari kebakaran hutan. Ketebalan asap menyebabkan jangkauan pandang pilot sangat terbatas dan cuma mengandalkan tuntunan dari menara kontrol Polonia, namun kesalahmengertian komunikasi antara menara kontrol dengan pilot menyebabkan pesawat mengambil arah yang salah dan menabrak tebing gunung. Pesawat tersebut meledak dan terbakar, menewaskan seluruh penumpang dan awaknya.
Dari seluruh korban tewas, ada 44 mayat korban yang tidak bisa dikenali yang selanjutnya dimakamkan di Monumen Membramo, Medan. Di antara korban jiwa, selain warga Indonesia, tercatat pula penumpang berkewarganegaraan Amerika Serikat, Belanda dan Jepang.
7. Demo Penerbangan Sukhoi Super Jet 100
Jumlah Penumpang : 45 – 2 jiwa
Korban :
- Selamat : ? jiwa (mungkin yang tidak mengikuti Demo)
- Tewas : ? jiwa
Sebuah pencarian di darat dan udara untuk pencarian pesawat ini dimulai, tapi dibatalkan karena malam tiba. Pada tanggal 10 Mei pukul 09:00 WIB (02:00 UTC), reruntuhan Superjet Sukhoi ditemukan di Gunung Salak (6°42′35″S 106°44′03″E), pada ketinggian 1.500 meter. Hal yang diketahui hanya bahwa pesawat terbang searah jarum jam menuju Jakarta sebelum menabrak Gunung Salak. Laporan awal menunjukkan bahwa pesawat menabrak tepi tebing di ketinggian 6.250 kaki (1,910 m), meluncur menuruni lereng dan berhenti di ketinggian 5.300 kaki (1,600 m). Pesawat ini muncul relatif utuh dari udara, bagaimanapun, telah mengalami kerusakan besar, dan tidak ada tanda korban selamat. Lokasi kecelakaan itu tidak dapat diakses oleh udara dan belum terjangkau oleh tim penyelamat pada malam hari pada tanggal 10 Mei. Beberapa kelompok dari personil penyelamat berusaha mencapai reruntuhan dengan berjalan kaki.
0 komentar:
Posting Komentar